Monday, February 18, 2008

Jangan Pernah Setori Saya

Kapolda Jabar Irjen Pol. Susno Duadji

*Pikiran Rakyat, Edisi 10 Februari 2008*

RABU (30/1) lalu, Kapolda Jabar Irjen Pol. Drs. Susno Duadji, S.H., M.Sc., mengumpulkan seluruh perwira di Satuan Lalu Lintas mulai tingkat polres hingga polda. Para perwira Satlantas itu datang ke Mapolda Jabar sejak pagi karena diperintahkan demikian. Pertemuan itu baru dimulai pukul 16.00 WIB.

Dalam rapat itu, kapolda hanya berbicara tidak lebih dari 10 menit. Meski dilontarkan dengan santai, tetapi isi perintahnya "galak" dan "menyentak". Saking "galaknya", anggota Satlantas harus ditanya dua kali tentang kesiapan mereka menjalani perintah tersebut.

Isi perintah itu ialah tidak ada lagi pungli di Satlantas, baik di lapangan (tilang) maupun di kantor (pelayanan SIM, STNK, BPKB, dan lainnya). "Tidak perlu ada lagi setoran-setoran. Tidak perlu ingin kaya. Dari gaji sudah cukup. Kalau ingin kaya jangan jadi polisi, tetapi pengusaha. Ingat, kita ini pelayan masyarakat. Bukan sebaliknya, malah ingin dilayani," tutur pria kelahiran Pagaralam, Sumatera Selatan itu.

Pada akhir acara, seluruh perwira Satlantas yang hadir, mulai dari pangkat AKP hingga Kombespol, diminta menandatangani pakta kesepakatan bersama. Isi kesepakatan itu pada intinya ialah meningkatkan pelayanan kepada masyarakat yang tepat waktu, tepat mutu, dan tepat biaya.

Susno memberi waktu tujuh hari bagi anggotanya untuk berbenah, menyiapkan, dan membersihkan diri dari pungli. "Kalau minggu depan masih ada yang nakal, saatnya main copot-copotan jabatan," kata suami dari Ny. Herawati itu.

Pernyataan Susno itu menyiratkan, selama ini ada praktik pungli di lingkungan kepolisian. Hasil pungli, secara terorganisasi, mengalir ke pimpinan teratas. Genderang perang melawan pungli yang ditabuh Susno tidak lepas dari perjalanan hidupnya sejak lahir hingga menjabat Wakil Kepala PPATK (Pusat Pelaporan Analisis dan Transaksi Keuangan). PPATK adalah sebuah lembaga yang bekerja sama dengan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menggiring para koruptor ke jeruji besi.

Berikut petikan wawancara wartawan "PR" Satrya Graha dan Dedy Suhaeri dengan pria yang telah berkeliling ke-90 negara lebih untuk belajar menguak korupsi.

Apa yang membuat Anda begitu antusias memberantas pungli atau korupsi?

Saya anak ke-2 dari 8 bersaudara. Ayah saya, Pak Duadji, bekerja sebagai seorang supir. Ibu saya, Siti Amah pedagang kecil-kecilan. Terbayang ‘kan betapa sulitnya membiayai 8 anak dengan penghasilan yang pas-pasan. Oleh karena itu, saat lulus SMA saya memilih ke Akpol karena gratis.

Nah, waktu sekolah, kira-kira SMP, saya punya banyak teman. Beberapa di antaranya dari kalangan orang kaya, seperti anak pejabat. Sepertinya, enak sekali mereka ya, bisa beli ini-itu dari uang rakyat. Sejak itulah, terpatri di benak saya, ada yang tidak benar di negara ini dengan kemakmuran yang dimiliki oleh para pejabat. Maka, saya sangat bersyukur bisa berperan memberantas korupsi saat mengabdi di PPATK. Itulah tugas saya yang paling berkesan selama ini karena bisa menjebloskan menteri, mantan menteri, dan direktur BUMN, yang memakan uang rakyat. Ada kepuasan batin.

Pengalaman di PPATK itukah yang membuat Anda menabuh genderang perang melawan pungli saat masuk ke Polda Jabar?

Seperti itulah. Akan tetapi, harusnya diubah, bukan pungli. Kalau pungli, terkesan perbuatan itu ketercelaannya kecil. Yang benar adalah korupsi. Pungli adalah korupsi. Mengapa korupsi yang saya usung? Karena sejak zaman Majapahit dulu, korupsi itu salah. Apalagi, jika aparat hukum yang korup. Bagaimana kita, sebagai aparat hukum, bisa memberantas korupsi kalau kitanya sendiri korupsi.

Oleh karena itu, sebagai tahap awal, saya "bersihkan" dulu di dalam, baru membersihkan yang di luar. Bagaimana saya mau menangkap bupati, direktur, dan lain-lain kalau di dalamnya belum bersih dari korupsi. Kalau aparatnya korupsi, tamatlah republik ini.

Tahap awalnya biasa saja. Umumkan, lalu periksa ke atasan tertingginya, yaitu saya, selanjutnya keluarga saya. Setelah itu pejabat-pejabat di Polda. Baru kemudian ke kapolwil, kapolres, dan seterusnya.

Kenapa harus dimulai dari saya. Karena saya pimpinan tertinggi di Polda Jabar ini. Ingat, memberantas korupsi bukan dimulai dari polisi yang bertugas di jalan raya. Kalau di pemerintah, bukan dari tukang ketik, atau petugas kecamatan yang melayani pembuatan akte kelahiran. Akan tetapi, dimulai dari pimpinan tertinggi di kantor itu.

Artinya, saya sebagai pimpinan jangan korupsi. Bentuknya macam-macam, seperti mendapat setoran dari bawahan, setoran dari pengusaha-pengusaha, mengambil jatah bensin bawahan, atau mengambil anggaran anggota saya. Oleh karena itu, saya tidak akan minta duit dari dirlantas, direskrim, atau kapolwil. Tidak juga mengambil anggaran mereka, atau uang bensin mereka.

Jadi, kalau di provinsi, misalnya, ada korupsi, yang salah bukan karyawannya, tetapi gubernurnya. Memberantasnya bagaimana? Mudah saja. Tinggal copot saja orang tertinggi di instansi itu.

Untuk program "bersih-bersih" itu, kira-kira Anda punya target sampai kapan?

Secepatnya. Ya, dua-tiga bulan. Kalau tidak segera, bagaimana kita menunjukkan kinerja kepada rakyat. Kita tidak perlu malu dan takut nama kita jatuh kalau bersih-bersih dari korupsi di dalam. Kita tidak akan jatuh merek dengan menangkap seorang kolonel polisi atau polisi berbintang yang korupsi. Kalau perlu, tulis gede-gede itu di koran.

Dan, anggota saya yang ketahuan korupsi, akan saya pecat. Jika memang saya harus kehabisan anggota saya di Polda Jabar karena semuanya saya pecat gara-gara korupsi, kenapa tidak. Apa yang harus ditakutkan.

Saya yakin, rakyat pasti senang kalau polisi bebas dari korupsi. Polisi itu bukan milik saya, tetapi milik rakyat. Saya justru merasa lebih tidak terhormat kalau memimpin kesatuan yang anggotanya banyak korupsi.

Berbicara soal penanganan kasus korupsi. Betulkah mengusut kasus korupsi bagaikan mengurai benang kusut. Pasalnya, para penyidik tipikor Polda Jabar mengaku kesulitan mengungkap kasus korupsi dengan alasan perlu kajian yang mendalam atas bukti-bukti sehingga memakan waktu lama?

Hahaha.... (Susno tertawa lepas). Mengusut kasus korupsi itu jauh lebih mudah ketimbang mengusut kasus pencurian jemuran. Mengungkap kasus pencurian jemuran perlu polisi yang pintar karena banyak kemungkinan pelakunya, seperti orang yang iseng, orang yang lewat, dan beberapa kemungkinan lainnya.

Kalau kasus korupsi, tidak perlu polisi yang pintar-pintar amat. Misal, uang anggaran sebuah dinas ada yang tidak sesuai. Tinggal dicari ke mana uangnya lari. Orang-orang yang terlibat juga mudah ditebak. Korupsi itu paling melibatkan bosnya, bagian keuangan, kepala projek, dan rekanan. Itu saja. Jadi, kata siapa sulit? Sulit dari mananya. Tidak ada yang sulit dalam memberantas korupsi. Kuncinya hanya satu, kemauan yang kuat. Harus diakui, itu (memberantas korupsi) memang susah karena korupsi itu nikmat. Apalagi, saat memegang sebuah jabatan.

Contohnya saja posisi kapolda. Siapa sih yang tidak mau jadi kapolda. Ibaratnya, tinggal batuk, apa yang kita inginkan langsung datang. Pertanyaannya, mau atau tidak terjerumus di dalamnya (korupsi). Kalau saya, jelas tidak. Itu hanya kenikmatan duniawi sesaat saja. Untuk apa sih duit banyak-banyak hingga tidak habis tujuh turunan. Gaji saya saja sekarang sudah besar. Mobil dikasih. Bensin gratis. Ada uang tunjangan ini-itu. Sudah lebih dari cukup. Anak-anak saya juga sudah kerja semua. Bahkan, gajinya lebih besar dari saya.

Lalu, langkah apa yang akan Anda buat agar Polda Jabar giat mengungkap kasus korupsi?

Seperti saya katakan tadi, bersih-bersih dulu di dalam. Jika sudah bersih di dalam, baru membersihkan di luar. Dan kasus korupsi akan menjadi salah satu target kami. Kami akan genjot pengungkapan kasus korupsi biar Jabar bergetar.

Untuk itu, kami akan berkoordinasi dengan PPATK untuk mengusut kasus-kasus korupsi di Jabar yang melibatkan pejabat publik. PPATK pasti mau membantu asalkan anggota saya bersih dan bisa dipercaya. Kita juga bisa diberi kasus-kasus. Kalau tidak bersih dan tetap "bermain" bagaimana bisa dipercaya. Kalau orang sudah percaya sama kita, maka banyak kasus yang masuk.

Akan tetapi, bukan karena basic saya di korupsi sehingga korupsi digenjot. Kasus lainnya juga dikerjakan. Dan, untuk itu harus tertib administrasi, salah satunya dengan membuat sistem pelaporan perkara berbasis IT yang terintegrasi dari polsek hingga ke polda. Untuk apa? Agar kita tahu setiap ada perkara yang masuk.

Jadi, alangkah bodohnya seorang kapolda jika tidak mengetahui jumlah perkara di jajarannya. Kalau jumlahnya saja tidak tahu, bagaimana tahu isi perkaranya. Dalam sistem pelaporan perkara tersebut, nantinya ada klasifikasi perkara. Perkara mana yang porsinya polda, polwil, polres, dan polsek. Untuk polda, misalnya kasus teror dan korupsi. Soal lapor boleh di mana saja.

Kita juga harus mempertanggungjawabkan hal itu ke pelapor dengan mengirim surat kepada pelapor bahwa kasusnya ditangani oleh penyidik ini, ini, dan ini. Kemajuannya dilaporkan secara berkala. Ini akan menjadi standar penilaian untuk penyidik. Dan kapolda mengetahui semua ini karena sistemnya ada sehingga tidak pabaliut. Saya paling tidak suka yang pabaliut-pabaliut. Mungkin, bagi sebagian orang, pabaliut itu enak karena sesuatu yang tidak tertib administrasi itu paling enak untuk diselewengkan. Benar tidak?

Langkah Anda memberantas pungli dan korupsi di tubuh Polda Jabar kemungkinan akan memberi efek pada pengungkapan kasus dengan alasan anggaran yang minim. Menurut Anda?

Kalau kita pandang minim, pasti minim terus. Kapan cukupnya. Kalau anggaran sudah habis, jangan dipaksakan memeras orang untuk menyidik. Mencari klien yang kehilangan barang di sini, memeras di tempat lain. Siapa yang suruh? Bilang saja sama rakyat, anggaran kita sudah habis untuk menyidik. Kita tidak perlu sok pahlawan.

Perilaku memeras atau menerima setoran itu zaman jahiliah. Tidak perlu ada lagi anggota setor ke kasat lantas atau kasat serse, lalu kasat serse setor ke kapolres, dan kapolres setor ke kapolwil untuk melayani kapolda. Jangan pernah setori saya. Lingkaran setan itu saya putus agar tidak ada lagi sistem setoran.

Bukan zamannya lagi seorang kapolsek, kapolres atau kapolwil bangga karena mampu membangun kantornya dengan megah. Dari mana duitnya kalau bukan dari setoran orang-orang yang takut ditangkap, seperti pengusaha judi, dan penyelundupan. Tidak mungkin dari gaji, wong gajinya hanya Rp 5-6 juta.

Menurut saya, anggota yang melakukan itu hanya satu alasannya, ingin kaya. Kalau ingin kaya, jangan jadi polisi, tetapi jadilah pengusaha.

Sikap Anda tersebut kemungkinan memunculkan pro dan kontra di lingkungan kepolisian?

Lho, kenapa harus jadi pro dan kontra. Peraturannya sudah jelas mana yang boleh dilakukan dan mana yang tidak boleh. Korupsi jelas-jelas dilarang dan ancamannya bisa dipecat. Jadi, tidak perlu diperdebatkan. Titik.

Bagi saya, siapa yang menjadi pemimpin harus mau mengorbankan kenikmatan dan kepuasan semu. Nikmat dengan pelayanan, dengan sanjungan, serta nikmat dengan pujian palsu. Malu dong bintang dua jalan petantang-petenteng, tetapi anak buah yang dipimpinnya korupsi dan memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar. Malu juga dong kita lewat seenaknya pakai nguing-nguing (pengawalan), sementara rakyat macet. Itu juga korupsi.

Polisi yang korup sama saja dengan melacurkan diri. Jadi, kalau saya korup dengan menerima setoran-setoran tidak jelas, apa bedanya saya dengan pelacur. ***


Sunday, February 03, 2008

Mengapa Pria Tidak Bisa Mendengar Dan Wanita Tidak Bisa Berhenti Bicara

Disadur dari buku “Why men don’t linsten & Women can’t read map”
Pengarang: Allan & Barbara Pease

Artikel ini dimuat bukan untuk membicarakan “gender” antara Pria dan Wanita. Secara kodrat [Given] antara Pria dan Wanita memang berbeda, antara kesetaraan [equal] dan kesamaan [identical] sesuatu yang sama sekali berbeda pula. Dari artikel ini diharapkan pemahaman terhadap lawan jenis dapat dipahami atau dimengerti lebih baik lagi. Buku ini di tulis setelah dilakukan Penelitian Struktur Otak Manusia Modern dan rangkuman hasil riset/observasi sosiologi yang bertahun-tahun oleh penulis.

Kemampuan Menghafal
Pusat memori (hippocampus) pada otak wanita lebih besar ketimbang pada otak pria. Ini bisa menjawab pertanyaan kenapa bila laki-laki mudah lupa, sementara wanita bisa mengingat segala hal sampai detail. Dari beberapa penelitian, banyak wanita yang menjadi ahli sejarah karena hafalannya kuat. Bahkan sampai ada anekdot “Wanita itu.. bisa memaafkan tapi tidak bisa melupakan…”

Kemampuan bicara
Dalam struktur otak wanita, kemampuan untuk berbicara terutama ada dibagian depan otak kiri dan sebagian kecil di otak sebelah kanan. Sementara buat pria, kemampuan berbicara bukan kemampuan otak yang kritis, dan tidak ada area yang spesifik dalam otak. Jadi jangan heran kalau wanita seneng ngomong dan banyak pula yang diomongin, karena kedua belah otaknya mampu bekerja sekaligus.

Otak pria itu terkotak-kotak dan mampu memilah-milah informasi yang masuk. Di malam hari, setelah seharian penuh aktivitas, pria bisa menyimpan semuanya di otaknya. Sementara otak wanita tidak bekerja seperti itu. Informasi atau masalah yang diterimanya akan terus berputar-putar dalam otaknya. Dan ini nggak akan berhenti sampe dia bisa mencurahkan isi otaknya alias curhat. Oleh sebab itu, kalo wanita bicara, tujuannya adalah untuk mengeluarkan uneg-unegnya, bukan untuk mencari kesimpulan atau solusi permasalahan.

Bagi wanita, curhat dengan teman-temannya merupakan sebuah tanda kepercayaan dan persahabatan. Dengan berbicara seorang wanita memang belum tentu mendapatkan jalan keluar untuk permasalahnya. Tetapi, mereka lega dan nyaman karena sudah bisa ngomong “ngalor ngidul”.

Dalam sebuah penelitian, rata-rata wanita bisa bicara 20 ribu kata dalam sehari. Sementara pria hanya sekitar 7 ribu kata sehari. Hal ini yang menyebabkan wanita sering “ngerumpi” atau “ngrasani” atau “ngomel”.

Kemampuan Fokus
Semua penelitian yang ada menemukan bahwa otak pria lebih terspesialiasi atau terbagi-bagi. Otak pria berkembang demikian sehingga mereka hanya dapat berkonsentrasi pada satu hal yang spesifik pada suatu saat, sehingga sering mereka bilang mereka bisa ngerjain semuanya tapi “satu-satu donk”.

Banyak wanita yang bingung kenapa para pria tidak bisa kerja gabungan atau “multi-tasking”. Kenapa pria harus ngecilin suara TV jika terima atau ada telepon? Kenapa pria tidak bisa mendengar atau susah diajak ngomong jika sedang nonton TV atau baca koran?

Jawabannya adalah karena sedikit sekali jaringan yang menghubungkan otak kiri dan kanan pada pria, sehingga dapat di analogikan begini : Ketika seorang pria sedang baca koran atau nonton TV pada saat itu juga ia akan menjadi tuli.

Hal ini sangat berbeda dengan otak wanita, wanita bisa melakukan banyak hal yang berbeda pada waktu yang bersamaan. Wanita bisa bicara di telpon, pada saat yang sama masak di dapur dan nonton TV. Atau dia bisa nyetir, dandan, dengerin radio dan bicara lewat hands-free.

Karena wanita bisa menggunakan 2 sisi otaknya secara bersamaan, banyak wanita yang bingung ngebedain kanan dari kiri. Sekitar 50% wanita nggak bisa secara langsung nunjuk mana kanan dan mana kiri kalau ditanya. Tapi pria bisa secara langsung mengidentifikasi kanan dari kiri. Sebagai akibatnya, wanita sering dimarahin pria karena nyuruh mereka belokin mobilnya ke kanan padahal maksud mereka sebenernya adalah belok kiri.

Kasus Diam (“ngambek”)
Secara diam-diam, wanita berasumsi bahwa pria akan tahu apa yang dia (wanita) inginkan atau butuhkan. Lalu ketika yang terjadi tidaklah demikian, wanita menuduh pria sebagai “tak peka dan tak berperasaan”. Sang pria pun protes “Memangnya saya ini pembaca pikiran apa?!”

Kasus Toilet
Kalau Pria mau ke toilet, biasanya dia pergi emang ada maksud dan tujuannya yang jelas, yaitu buang air. Tapi wanita kalau ke toilet selain tujuan utama, bisa aja ada tujuan lain, karena mau ngobrol atau pengen curhat sama temen wanita lainnya. Jadi… jangan heran kalo wanita sering ngajak temannya (wanita lain) kalau mau ke toilet.
Coba kalau pria (misal Budi terhadap Arman) tiba-tiba bilang gini : "Man, gue mo ke toilet, ikut yuk?" Rasakan bedanya… terasa aneh kan...?

Kasus Remote TV
Sebagian besar pria suka mendominasi remote control TV dan gonta-ganti channel pada saat iklan. Padahal wanita nggak apa-apa tuh kalo nonton iklan.

Kasus Mentega di Lemari Es
Kisahnya berawal dari suami yang berdiri di depan lemari es yang terbuka.....
Suami : “Ma… Menteganya mana ya?”
Istri : “Di dalem lemari es.”
Suami : “Nggak ada tuh.” (sambil celingak-celinguk ke dalem lemari es)
Istri : “Kok bisa nggak ada? Dari dulu juga ditaruh di situ.”
Suami : “Mana? Nggak ada. Papa udah cari. Nggak ada di situ.”
Terus si istri akhirnya harus ikutan ke dapur ikutan ngelongok ke dalam lemari es dan... secara ajaib wusss… tangannya udah megang mentega.
Apa komentar selanjutnya dari si Suami?
Suami : ”Ditaruhnya di situ sich... terang aja tadi nggak keliatan!”

Kejadian semacam ini juga terulang kembali, ketika si Suami mencari selai Strawberry dan tidak ketemu. Dia hanya menemukan selai Nanas, padahal selai Strawberry itu ada di belakang selai Nanas....
Suami kadang ngerasa istri suka ngerjain mereka dengan cara ngumpetin barang-barang di laci atau lemari. Baik itu mentega, selai, gunting, handphone, kunci mobil, kunci rumah, dompet, dll. Padahal… semuanya sebenernya memang ada di situ. Tapi entah kenapa mata suami sepertinya nggak bisa ngeliat.

Hal ini bisa terjadi di lemari pakaian, rak buku atau laci tempat istri naruh barang. Yang sering dikatakan istri terhadap suami adalah: “Kalo nyari… jangan pake mulutt…!”

Alasan sebenarnya adalah karena wanita punya jangkauan sudut pandangan yang lebih besar daripada pria. Bila diukur dari hidung, bisa mencapai 45 derajat ke arah kiri-kanan-atas-bawah, bahkan ada yang mencapai 180 derajat. Jadi wanita bisa melihat isi Lemari Es atau lemari tanpa menggerakkan kepalanya.

Sementara pria kalo melihat sesuatu lebih terfokus dan otaknya memproses seolah mereka melihat dalam terowongan yang panjang. Alhasil, mereka bisa melihat jelas dan akurat apa yang ada tepat di depan mata dan jaraknya lebih jauh, hampir mirip seperti melihat sesuatu lewat teropong.
Sebenernya ada implikasi lain dari perbedaan besar sudut pandangan ini. Dengan sudut pandangan yang jauh lebih besar dari pria, mata wanita bisa “jelalatan” tanpa perlu takut ketahuan. Sementara kalo pria, sudah pasti kena tuduh atau ketangkep basah kalo matanya lagi “jelalatan”.

Padahal berdasarkan penelitian mengungkapkan bahwa : mata wanita melihat “cowok seksi” sama seringnya, bahkan lebih sering dari pada pria melihat “cewek seksi”. Akan tetapi… karena wanita memiliki sudut pandangan yang lebih “hebat” dari pria… maka … wanita jarang ketahuan jika lagi “jelalatan”.

Kasus Sepatu Biru atau Merah
Alkisah (Romi dan Yuli : samaran) sedang siap-siap untuk pergi ke pesta. Yuli baru aja beli baju baru dan pengen banget keliatan cantik. Dia pegang 2 pasang sepatu, sepasang warna biru, sepasang warna merah. Lalu dia bertanya ke Romi, dengan pertanyaan yang paling ditakutin Pria,

Yuli : "Bang, sepatu mana yang musti aku pake dengan baju ini ya?"
Romi : "Ahh... umm... yang mana aja yang kamu suka Sayang."
Yuli : "Ayo donk Bang," (sambil nggak sabaran)
"Yang mana yang keliatan lebih bagus... yang biru atau yang merah?"
Romi : "Kayaknya yang merah deh!" (dengan gugup)
Yuli : "Emangnya yang biru kenapa Bang?" (sambil memaksa)
Romi : "Kamu emang dari dulu nggak pernah suka sama yang biru! Aku beli mahal-mahal dan kamu nggak suka khan?" (jawab Romi sekenanya)
"Kalo nggak mau denger pendapatku, kenapa tadi nanya ?" (sambil dongkol hatinya)

Romi pikir tadi dia disuruh menyelesaikan suatu masalah, tapi ketika masalahnya sudah ia selesaikan, Yuli malah kesel. Yuli, sedang menggunakan bahasa tipikal “wanita” alias cuman wanita aja yang ngerti (bahasa tidak langsung atau indirect speech).

Yuli sebenernya udah mutusin mo pake sepatu yang warna biru dan tidak sedang minta pendapat Romi, yang dia inginkan adalah konfirmasi dari Romi bahwa ia terlihat cantik dan keren pada saat di pesta nanti. Memang wanita kalau ngomong biasanya menggunakan “isyarat” tentang apa yang sebenarnya dia inginkan. Tujuannya adalah untuk menghindari konflik atau konfrontasi sehingga bisa terjalin hubungan yang harmonis satu sama lain. Indirect speech biasanya menggunakan kata-kata seperti 'kayaknya', 'sepertinya' dan sebagainya.

Ketika wanita bicara menggunakan indirect speech ke wanita lain, tidak pernah ada masalah. Wanita lain cukup sensitif untuk mengerti maksud sebenarnya. Tapi, bila dipakai untuk bicara dengan pria, bisa berakibat fatal.

Pria menggunakan bahasa langsung atau direct speech dan mereka mengambil makna sebenarnya dari apa yang orang lain katakan. Tapi sebetulnya dengan sedikit kesabaran dan banyak latihan, pria dan wanita bisa kok belajar untuk mengerti satu sama lain.

Kasus Yang Lain
Pria keheranan bagaimana wanita bisa masuk di ruangan yang ramai dan langsung bisa ngasih komentar tentang semuanya, sementara perempuan heran bagaimana pria tak bisa mengetahuinya.

Pria keheranan bagaimana wanita nggak bisa ngeliat lampu peringatan pelumas di dashboard mobil tapi bisa melihat noda kotor di kaus kaki sejauh 10 meter.

Bila wanita berkendara dan tersesat (dan mereka memang lebih sering tersesat ketimbang pria), dia akan berhenti dan bertanya. Bagi pria, ini adalah isyarat kelemahan. Dia akan berkendara terus selama berjam-jam, menggumamkan sesuatu seperti : “Aku temukan jalan baru untuk ke sana” atau “Hey, aku nemu pom bensin baru nih”.

Wanita lebih peka apabila ada wanita lain yang merasa marah atau terluka, sementara pria biasanya masih harus secara nyata melihat air mata, wajah marah atau bahkan tamparan di wajah sebelum dia benar-benar mengerti apa yang terjadi. Kepekaan wanita dalam memahami isyarat komunikasi yang halus dan samar ini sering disebut sebagai “intuisi wanita”, yang sebenernya adalah kemampuan wanita yang luar biasa dalam mendeteksi detail dan perubahan kenampakan atau perilaku orang lain. Sementara tidak demikian pada pria.

Banyak wanita yang merasa diri mereka gagal atau bahwa wanita secara umum telah jadi pecundang karena tidak bisa menaklukkan area dominan pria. Itu tidak benar. Wanita tidaklah gagal, hanya saja chemistry otak mereka belum tersesuaikan dengan ranah/bidang yang di sana pria banyak bermain.

Secara umum, awareness pria berkisar pada meraih hasil, mengejar target, mengejar tujuan, status dan kekuasaan, dan juga berkompetisi. Sementara itu awareness wanita berkisar pada komunikasi, kooperasi, harmoni, cinta, berbagi dan relationship satu sama lain.

Pria dan wanita memang berbeda, bukan perkara siapa yang lebih baik. Buku ini menegaskan bahwa jika ingin berkiprah maksimal, pahami kecenderungan natural kompetensi, lalu berkiprah dan melajulah dengan itu.